Sejarah Kepercayaan Sapto Darmo Indonesia
SEJARAHSAPTA DARMA INDONESIA DI SURABAYA
Bab ini berisi deskripsi mengenai sejarah dan kemunculan Ajaran Sapta Darma Indonesia.
Dalam perjalanannya, muncul Ajaran Sapta Darma Indonesia dan juga sejarah berdirinya Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia yang terletak di Surabaya. Selain itu, dalam bab ini, penulis juga mengulas mengenai keorganisasian dan aktivitas para penghayat Sapta Darma Indonesia.2.1. Sapta Darma IndonesiaOrganisasi Sapta Darma Indonesia adalah suatu wadah bagi para penghayat Kepercayaan Sapta Darma untuk melestarikan, mengembangkan, dan mengagungkan ajaran kepercayaan Sapta Darma. Kepercayaan Sapta Darma merupakan suatu ajaran Ketuhanan dan salah satu tata cara orang/manusia untuk menyembah atau bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini diyakini sebagai wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa, yang diterima oleh Bapak Hardjo Sapuro di Kampung Pandean, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada tanggal 27 Desember 1952. Bapak Hardjo Sapuro yang bernama asli Legiman alias Sapuro lahir pada tahun 1911. Beliau merupakan anak dari pasangan Rakiman dan Suliyah. Beliau meninggal pada tanggal 16 Desember 1964 dan jenazahnya dikremasi di Kembang Kuning, Surabaya. Kemudian, abu beliau dilarung di laut Pantai Kenjeran, Surabaya, pada tanggal 20 Desember 1964.Kepercayaan Sapta Darma mempunyai arti sebagai berikut: kepercayaan berarti percaya, yakin, dihayati dan dilaksanakan; sapto berati tujuh; dan, darmo berarti kewajiban suci dan juga luhur atau perbuatan yang menuju kebaikan. Sehingga, Kepercayaan Sapta Darma berarti mempercayai tujuh wewarah atau ajaran suci dan luhur yang diwahyukan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk dihayati sebagai tuntunan hidup manusia dalam mencapai ketentraman, kedamaian, kebahagian, dan kesempurnaan hidup di dunia untuk memayu hayuning bawana.Ajaran Sapta Darma yang diterima dalam bentuk wahyu adalah sebagai berikut:1. Wahyu ajaran Sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Diterima pada tanggal 27-28 Desember 1952, hari Jumat Wage, malam Sabtu kliwon antara pukul 24.00 –05.00.24Universitas Indonesia252. Wahyu ajaran Racut. Diterima pada tanggal 13 Februari 1953, hari Jumat Pon pukul 11.00.3. Wahyu ajaran simbol pribadi manusia, wewarah tujuh (Sapta Darma), dan sesanti. Diterima pada tanggal 12 Juli 1954, pada hari Senin Pahing pukul 11.00.4. Wahyu Gelar Sri Gutama dan Panuntun Agung Sapta Darma. Diterima pada tanggal 27 Desember 1955, hari Selasa Kliwon pukul 24.00.2.2. Ajaran Kerohanian Sapta Darma IndonesiaAjaran Sapta Darma mengajarkan tentang Ketuhanan, yakni tata cara orang atau manusia untuk menyembah dengan cara bersujud kepada Tuhan. Hal ini ditujukan sebagai tuntunan hidup manusia berbudi pekerti luhur untuk mencapai ketentraman, kedamaian, kebahagian dan kesempurnaan hidup di dunia untuk memayu hayuning bawana, yang memberikan pemahaman tentang kedudukan Tuhan. Yang dimaksud dengan kedudukan Tuhan adalah, keyakinan bahwa Tuhan itu ada, Tuhan Maha Segalanya, sifat Tuhan Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, kekuasaan Tuhan tidak terbatas, pencipta bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, dan seisinya.Ajaran Sapta Darma juga mengajarkan tentang kemanusiaan yang memberikan pemahaman tentang asal-usul manusia yang terdiri dari tiga unsur dan disebut sebagai Tri Tunggal--yaitu rasa Ayah, rasa Ibu dan Sinar Allah, struktur manusia (jasmani dan rohani), tugas dan kewajiban manusia untuk mendekatkan diri, menyembah kepada Tuhan, senantiasa bersikap ksatria, berbudi luhur, rendah hati, mengendalikan diri dan mawas diri, ikut berperan serta dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara, serta berkewajiban memelihara dan melestarikan alam semesta sebaik-baiknya untuk kehidupan manusia, di dalam hidup bernegara bermasyarakat dengan menjalankanwewarah Sapta Darma.Kepercayaan artinya dipercayai atau diyakini, dihayati, dan dilaksanakan, Sapta artinya tujuh, dan Darma artinya kewajiban suci/luhur atau wajib melaksanakan suatu perbuatan, baik ucapan maupun tindakan yang berbudi pekerti luhur. Jadi, Sapta Darma adalah tujuh wewarah suci dan luhur yang di-wahyukan oleh Tuhan Yang Maha Esa guna dihayati sebagai tuntunan hidup manusia dalam mencapai ketentraman, keselamatan, kebahagiaan, dan kesempurnaan hidup (memayu hayuning bawana) yang diterima oleh seorang bangsa Indonesia bernama Harjo Sapuro yang kemudian diberi gelar Sri Gutama dan Panuntun Agung Sapta Darma.Universitas Indonesia26Berikut merupakan tujuh wewarah atau Sapta Darma yang wajib dihayati dan dilaksanakan oleh setiap warga Sapta Darma. Kalimat-kalimatnya tersusun dan berbunyi dalam bahasa Jawa:1. Setya tuhu marang anane Pancasila. (Setia dan taat terhadap adanya Pancasila).2. Kanthi jujur lan sucining ati kudu setya nindakake angger-angger ing negarane.(Dengan jujur dan sucinya harus setia menjalankan undang-undang di Negaranya).3.Melu cawe-cawe cancut taliwanda njaga adeging nusa lan bangsa-ne. (Ikut berperan serta menyingsingkan lengan baju menjaga tegak berdirinya negara dan bangsanya).4.Tetulung marang sapa bahe yen prelu, kanthi ora nduweni pamrih apa bahe kajaba mung rasa welas lan asih. (Memberi pertolongan terhadap siapa saja bila diperlukan dengan tidak mempunyai atau tanpa pamrih apa saja, melainkan hanya atas dasar belas kasihan atau cinta kasih).5.Wani hurip kanthi kapitayan saka kekuwatane dhewe. (Berani hidup dengan percaya dan kekuatannya sendiri).6.Tanduke marang warga bebrayan kudu susila kanthi alusing budi pakarti tansah gawe pepadhang lan mareming liyan. (Di dalam hidup bermasyarakat, harus dengan susila halusnya budi pekerti, senantiasa membuat penerangan. dan senangnya orang lain).7.Yakin yen kahanan dunya iku ora langgeng, tansah owah gingsir/nyakra manggilingan. (Percaya bahwa keadaan dunia itu tidak tetap, selalu berubah bagikan roda berputar).Universitas Indonesia27Universitas IndonesiaGambar 2.1. Wewarah Sapta Darma IndonesiaSumber : Dokumentasi Pribadi.Selain wewarah tujuh yang menjadi pedoman bagi penghayat Sapta Darma Indonesia, terdapat pula “Sesanti” yang berbunyi sebagai berikut: "Ing Ngendi Bahe Marang Sapabahe, Warga Sapta Darma, Kudu Suminar Pindha Bhaskara" (Dimana saja terhadap siapa saja, Warga Sapta Darma harus bersinar bagaikan sang surya). Dari sini dapat diketahui bahwa wahyu ajaran yang diterima selama ini bernama Sapta Darma dan dapat dihayati oleh setiap manusia.Sejarah terus berjalan, hari demi hari berlalu, semakin bertambah pula orangorang yang menjadi pengikut ajaran Sapta Darma. Saat ini, pengikut ajaran Sapta Darma telah tersebar di seluruh Indonesia, meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, bahkan hingga Papua. Selain itu, penghayat Sapta Darma juga terdapat di luar negeri, misalnya di Malaysia, Singapura, dan masih banyak lagi. Untuk jumlah pengikut Sapta Darma di seluruh Indonesia diperkirakan kurang lebih telah mencapai delapan juta orang. Jumlah tersebut masih merupakan perkiraan semata. Pada nyatanya, memang belum diadakan pencatatan secara administratif oleh Organisasi Sapta Darma. 28Pengikut ajaran Sapta Darma ini tidak hanya berasal dari orang-orang yang semula karena sakit kemudian menghendaki kesembuhan, tetapi juga banyak lagi alasan yang mereka miliki untuk kemudian bergabung dengan Sapta Darma. Misalnya, orang-orang tersebut ingin bebas dari penderitaan. Selain itu, tidak sedikit juga orang-orang yang atas kesadarannya sendiri ingin menghayati ajaran Sapta Darma. Terutama, dari orang-orang yang memang selama hidupnya belum menghayati agama atau kepercayaan yang mereka anut secara sungguh-sungguh.2.3. Pola Dasar Ajaran Sapta Darma Indonesia1. Konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.Konsepsi tentang Tuhan Yang Maha Esa menurut ajaran kepercayaan Sapta Darma tercermin dalam proses sejarah penerimaan wahyu pertama. Di dalam penerimaan wahyu tersebut, berisikan penerimaan ajaran bagaimana manusia seharusnya bersujud kepada Yang Maha Esa. Bagaimanapun, hal tersebut memiliki sifat mutlak untuk diucapkan dengan cara batin pada saat mengawali sujud maupun pada saat memanjatkan doa untuk meminta pertolongan pada Tuhan. Bersujud kepada Tuhan juga diperlukan ketika para penganut ingin melakukan sesuatu hal yang bersifat rohani. Dengan demikian, kepercayaan Sapta Darma mengajarkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada. Istilah atau kata sujud dalam kepercayaan ini berarti bersujud atau bersembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian, Tuhan Yang Maha Esa menurut kepercayaan Sapta Darma adalah pencipta dan penguasa agung terhadap alam semesta dan bersifat gaib.2. Konsepsi tentang manusia.Konsepsi tentang manusia menurut ajaran kepercayaan Sapta Darma tercermin dalam Simbol Pribadi Manusia yang tergambar dalam gambar di bawah ini.Universitas Indonesia29Universitas IndonesiaGambar 2.2. Simbol Pribadi ManusiaSumber : Dokumentasi PribadiGambar di atas tidak hanya berguna sebagai lambang atau logo Organisasi Sapta Darma Indonesia. Gambar tersebut juga merupakan wahyu ketiga ajaran Sapta Darma dan pada akhirnya disebut sebagai Simbol Pribadi Manusia. Simbol pribadi manusia tersebut mempunyai arti sebagai berikut:1. Suatu bentuk persegi empat bujur sangkar atau belah ketupat bingkai berwarna hijau tua dan di dalamya warna hijau muda (maya), melambangkan terjadinya wadak atau bleger jasmani ataubadan. Dalam hal ini, manusia terjadi dari lima unsur, yaitu : a). unsur tanah; b). unsur air, c) unsur api; d). unsur udara (angin); serta e). warna hijau muda unsur atmosfer (suasana keadaan alam).2. Garis warna kuning yang membentuk segi tiga sama sisi dan sebangun, serta membentuk segitiga yang sama besarnya, melambangkan proses terjadinya manusia (tes dumadi ning manugsa) yaitu berasal dari tiga unsur (elemen) dan yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Ketiga unsur tersebut dinamakan “tri tunggal” (telu-teluning atunggal), tiga tetapi satu, yaitu rasa ayah, rasa ibu, dan sinar cahaya Allah (Tuhan Yang Maha Esa).3. Kemudian, ketiga sudut tersebut membentuk tiga segi tiga lagi dan masingmasing membentuk tiga sudut sehingga menjadi sembilan sudut. Sembilan sudut itu melambangkan bahwa setiap manusia mempunyai sembilan lubang hawa (babahan hawa sanga), yaitu: dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang kelamin, dan satu lubang pelepasan.304. Lingkaran berwarna hitam, merah, kuning, dan putih. Melambangkan adanya empat nafsu di dalam diri manusia. Warna hitam melambangkan nafsu tamak atau serakah (angkara ngongsa-angsa). Warna merah melambangkan adanya nafsu amarah (brangasan). Warna kuning melambangkan adanya nafsu keinginan. Terakhir, warna putih melambangkan nafsu kesucian, kebaikan, atau keluhuran. Warna hitam, merah, kuning dan putih tersebut membentuk lingkaranyang kemudian melambangkan bahwa nafsu dan batin manusia itu senantiasa tidak tetap atau selalu berubah-ubah (nyakra manggilingan).5. Di dalam lingkaran yang berada di tengah, terdapat gambar manusia yang berbentuk Semar. Hal ini melambangkan kepercayaan manusia terhadap adanya Sukma Sejati (Hyang Maha Suci) yang dapat berhubungan langsung kepadaHyang Maha Kuwasa. Dalam cerita pewayangan atau pedalangan, Semar adalah Dewa yang ngejawantah (berwujud sebagai manusia) dan Semar selalu menjadi pamong atau penasihat para kesatria. Tentunya, hal ini mengandung makna dan harapan agar setiap Warga Sapta Darma senantiasa bersikap dan berjiwa kesatria. Semar juga dapat melambangkan budi luhur. Sehingga, terkandung juga makna dan harapan agar setiap warga Sapta Darma dapat memiliki budi pekerti yang luhur.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Semar adalah dewa yang menyamar sebagai manusia (wong boga sampir). Ia berperan sebagai pamong agung para kesatria dalam memberantas keangkaramurkaan. Kemudian, apabila perlu, Semar bisa langsung menghadap pada Sang Hyang Tunggal (Sang Hyang Wenang). Oleh karena itu, dalam ajara Sapta Darma terkandung suatu penghayatan sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah) secara langsung (tidak dengan perantaraan siapa dan apapun).Tangan kiri dari gambar Semar di dalam simbol ini menggenggam sesuatu. Hal ini mempunyai arti atau makna bahwa Semar mempunyai rasa mulia atau luhur. Ia tidak suka menonjolkan atau menunjukkan dirinya bahwa ia sebenarnya adalah Dewa. Semar mempunyai watak rendah hati, bahkan hanya menjadi abdi. Hal ini mengandung makna dan harapan kepada setiap warga Sapta Darma agar senantiasa berwatak rendah hati, tidak congkak atau sombong, tidak suka pamer, tidak minta didewa-dewakan, dan harus bisa mengendalikan diri. Kemudian, warga Sapta Darma juga diharapkan untuk selalu mawas diri.Universitas Indonesia31Tangan kiri Semar yang menggenggam sesuatu juga mempunyai makna serta harapan bagi setiap warga Sapta Darma. Yakni, diharapkan bahwa warga Sapta Darma bisa ngregem atau memegang teguh keyakinan mereka miliki untuk kemudian dijadikan sebagai tuntutan hidup. Tangan kanan semar yang menunjuk atau menuding menggunakan satu jari mempunyai arti atau makna bahwa warga Sapta Darma dalam keyakinannya tidak akan menduakan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka, tidak ada sosok lain yang wajib disembah atau disujudi selain Tuhan Yang Maha Esa.Selanjutnya, gambar Semar yang menyandang pusaka (garnan) mempunyai arti bahwa Semar itu memiliki “Sabda”. “Sabda” tersebut berarti ucapan atau kata-kata yang mengandung tuah. Maka, warga Sapta Darma yang telah melaksanakan ajaran sujud Sapta Darma dengan benar serta dengan penuh keyakinan, pada akhirnya mungkin bisa memiliki mukjizat berupa sabda. Sabda tersebut dapat digunakan untuk menolong kesembuhan orang sakit yang dinamakan sebagai danarasa dengan sabda usada waras.Gambar Semar yang memakai kalung gentha (klinting) juga memiliki makna. Gentha atau klinting tersebut dipakai supaya suaranya dapat terdengar. Dengan demikian, makna dari pemakaian kalung tersebut adalah, anjuran supaya warga Sapta Darma harus berani menunjukkan budi pekerti luhur mereka dan harus bisa berperilaku jujur.Gambar Semar yang rnemakai kampuh (kain) dengan lima lipatan (wiron)mempunyai makna atau arti bahwa setiap manusia itu mempunyai panca indra.6. Tulisan dengan huruf Jawa yang berbunyi, nafsu - budi - pakarti, mempunyai makna bahwa makhluk Tuhan yang sempurna adalah manusia. Akan tetapi, di dalam diri manusia, terdapat nafsu, budi dan, juga pekerti. Hal inilah yang menyebabkan manusia merupakan makhluk yang sempurna apabila dibandingkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang.7. Tulisan huruf Jawa yang yang berbunyi Sapta Darma mempunyai arti sebagai berikut: Sapta artinya tujuh dan darma artinya kewajiban suci/luhur atau wajib untuk melaksanakan suatu perbuatan, baik ucapan maupun tindakan yang berbudi pekerti luhur,Demikian konsepsi tentang manusia dalam ajaran Kepercayaan Sapta Darma yang tercermin dalam makna atau arti Simbol Pribadi Manusia. Di dalam simbol tersebut telah tercakup asal-usul terjadinya manusia (tesing dumadi), struktur jasmani Universitas Indonesia32dan rohani manusia, kedudukan manusia terhadap makhluk hidup yang lain, dan bagaimana kewajiban manusia dalam mencapai hidup dan kehidupanya.3. Konsepsi tentang alam semesta.Menurut ajaran kepercayaan Sapta Darma, alam semesta adalah jagad kaya dengan segala bentuk isi dan sifat yang telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran Kepercayaan Sapta Darma mempercayai atau meyakini adanya dua alam, yaitu:1).alam gumelar atau jagad raya, yaitu alam padang alam yang dapat dilihat manusia atau alam yang ditempati oleh tumbuh-tumbuhan, binatang, dan juga manusia; dan 2). alam halus atau alam gaib, yaitu alamnya para lelembut atau makhluk halus, seperti jin, roh-roh, dan juga manusia setelah mati. Hubungan alam dengan manusia adalah saling terkait atau lebih tepatnya manusia yang bertugas menjaga kelestarian alam.2.4. Sejarah Berdirinya Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia2.4.1. Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaAjaran kepercayaan Sapta Darma berasal dari wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemerintah dan negara atas keberadaan serta perkembangannya, pada tanggal 12 Juli 1965 secara resmi dibentuk suatu wadah atau organisasi yang pada waktu diberi nama Kepercayaan Sapta Darma Indonesia. Kala itu, organisasi ini dipimpin oleh Raboen Soetrisno yang berdomisili di Jalan Dinoyo Nomor 54, Surabaya. Terdapat tujuh tokoh pendiri dari organisasi ini, yakni: 1). Raboen Soetrisno; 2). Supardi Darmosastro; 3). R. Soebadi; 4) Ahmad Resksodiwiryo; 5). Sastro Suwarno; 6). Tomo Diprojo; dan 7). Hadi Siswoyo.Raboen Soetrisno meninggal pada tahun 1999. Sehingga, kepengurusan organisasi ini dilanjutkan oleh Mohamad Nur Wakhid. Nur Wakhid berperan sebagai ketua atau pimpinan pusat untuk periode tahun 2000 hingga tahun 2005. Kemudian, pada tahun 2005 Nur Wakhir mengundurkan diri dari jabatannya. Pada bulan November 2005, para sesepuh menunjuk Madiro sebagai ketua atau pimpinan pusat/ Hingga tahun 2013, organisasi ini belum mengurus akta notarisSanggar Pusat Sapta Darma Indonesia ini bertempat di Jalan Darmo Permai Selatan 18 Nomor 21, Surabaya dan tersebar di berbagai cabang kabupaten atau kota. Di antaranya terletak di Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Tuban, Nganjuk, Madiun, dan di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Biaya pembangunan sanggar ini sepenuhnya Universitas Indonesia33berasal dari iuran maupun patungan warga Sapta Darma. Tidak terdapat bantuan maupun campur tangan dari pemerintah dalam pendirian sanggar ini. Meskipun demikian, lahan yang digunakan untuk mendirikan sanggar ini merupakan lahan milik pemerintah. Pendirian sanggar ini menggunakan sistem “pinjam pakai”, dan akan berakhir pada tahun 2026. Dengan sistem “pinjam pakai”, terdapat kekhawatiran yang dirasakan oleh warga Sapta Darma, yakni ketakutan bahwa lahan yang mereka gunakan tidak dapat diperpanjang izin pemakaiannya. Jika tidak dapat diperpanjang, mereka terpaksa para warga Sapta Darma harus membongkar sanggar yang telah mereka dirikan dan memindahkannya. Tentunya, tidak mudah bagi mereka untuk mencari lahan yang baru.Gambar 2.3. Papan yang terdapat di depan Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaSumber : Dokumentasi Pribadi2.4.2. Organisasi di Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaPada dasarnya, organisasi Sapta Darma Indonesia telah memiliki tanda inventarisasi. Tanda inventarisasi tersebut dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan nomor: I.156/F.3/N.1.1/1980. tanda tersebut dikeluarkan pada tanggal 31 Desember 1983. Akan tetapi, terdapat permasalahan dalam pendirian organisasi karena tidak adanya notaris Universitas Indonesia34sebagai syarat yang dapat diakui oleh pemerintah atau negara. Hal ini pun telah tertuang dalam Undang-undang No. 17 tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan (ormas). Maka dari itu, empat orang dari penghayat Sapta Darma Indonesia yang terdiri dari Wasira, Warsito, Bakri, dan Madiro, telah menghadap seorang notaris bernama Setiawati Sabarudin, SH., di Jalan Raya Darmo Permai Utara Nomor 3. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan akta pendirian organisasi kemasyarakatan. Akta tersebut dikeluarkan pada 17 Februari 2014 dengan menyebutkan bahwa nama organisasi yang dipakai adalah ORGANISASI SAPTA DARMA INDONESIA. Organisasi ini secara resmi diketuai oleh Madiro dan telah mendapatkan pengesahan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor AHU0020.60.2014, tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum yang ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 22 April 2014.Struktur kepengurusan Organisasi Sapta Darma Indonesia saat ini terdiri dari dua belas orang pembina atau sesepuh, yakni: Wasiran, Kaseri, Hartono, Niti, Tamat, Boeamin, Soenari, Satimun, Kaspar, Rawuh Niti Sasro, Sariani, dan Waras. Lebih jelasnya, jabatan ketua umum dipegang oleh Madiro. Wakil dalam organisasi ini dipegang oleh Warsito dan bendahara adalah Bakri. Untuk posisi sekretaris, masih belum dilakukan pemilihan kembali setelah meninggalnya Galuh Probo Wiyangga. Kemudian, juga ada tujuh orang yang berperan sebagai pengawas dari organisasi, yakni: Soedadi, Yahya Kristanto Chandra, Omin, Tamping, Subandi, Heru Tritoni, dan juga Purwono.Universitas Indonesia35Gambar 2.4. Pengurus Organisasi Sapta Darma IndonesiaSumber : Dokumentasi Pribadi.2.4.3. Komunitas Penghayat Sapta Darma Indonesia di Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaJumlah para penghayat Sapta Darma Indonesia yang berada di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesiapada tahun 2018 tergolong tidak terlalu bersar.Terdapat penghayat aktif dan juga penghayat pasif.Dimana, penghayat aktif merupakan penghayat yang secara berkesinambungan selalu mengikuti setiap kegiatan yang diadakan oleh Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia.selain itu, mereka juga sering melakukan ibadah sujud di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia. sementara, penghayat pasif ialah penghayat yang hanya berstatus sebagai penghayat kepercayaan, namun, mereka tidak melakukan ibadah sujud di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia dna juga jarang sekali megikuti kegitan-kegiatan yang diadakan di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia.Penghayat Sapta Darma Indonesia aktif yang berada di Sanggar Pusat Sapta Indonesia hanya berkisar 10-15 orang.Sementara, yang pasif berkisar antara 20-30 Universitas Indonesia36orang.Jadi, penghayat kepercayaan Sapta Darma Indonesia yang dapat ditemui di sanggar tersebut setiap harinya hanya penghayat yang aktif.Penghayat kepercayaan yang pasif dapat ditemui ketika acara-acara besar memperingati turunnya wahyu.Selain itu, terkait dengan regenerasi penghayat kepercayaan Sapta Darma Indonesia masih tergolong sulit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantarannya mereka telah mendapatkan pelajaran agama tertentu di sekolah dan orangtua membebaskan anaknya untuk menganut apa saja yang diyakini oleh mereka. “Hal ini terjadi karena sumber daya manusia nya yang masih rendah. Sehinggauntuk mengurus oraganisasi dan regenerasi sedikit sulit. Selain itu, kualitas sumber daya manusia yang menganut sapta darma ini juga relative rendah dalam hal ekonomi dan juga pendidikan.”(Informan JR, catatan lapangan 9 Februari 2018)2.4.4. Kondisi Bangunan Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaSanggar Pusat Sapta Darma Indonesia terletak di lingkungan kompleks perumahan menengah ke atas. Rumah-rumah di sekitar sanggar, berukuran besar dengan luas kira-kira 13x15 meter dengan pagar depan rumah yang tinggi-tinggi. Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia terbilang cukup luas dengan luas sekitar 9x7 meter persegi. Halaman depan dari sanggar ini lumayan luas dengan dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari bambu. Kemudian, di halaman tersebut terdapat beberapa tanaman di dalam pot dan juga rerumputan yang nampaknya belum dipotong oleh pengurus sanggar. Meskipun demikian, kondisi halaman sanggar masih terlihat bersih dan nyaman untuk dihuni. Selain itu, terdapat juga beberapa hewan peliharaan yang berkeliaran seperti ayam, kucing, dan anjing. Hewan-hewan tersebut merupakan hewan peliharaan milik Pak Eko, salah satu tuntunan di masyarakat Sapta Darma Indonesia. Di depan sanggar terdapat tiga plang yang masing-masing bertuliskan, Pengurus Sapta Darma Indonesia, Jawa Timur, Pengurus Koordinator Sapta Darma Indonesia, Kota Surabaya, dan Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia, Surabaya. Warna yang mendominasi bangunan dan pagar sanggar adalah warna hijau.Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia ini, lantainya berkeramik putih dan sebagian dindingnya berkeramik hijau. Memiliki pintu yang terbuat dari kayu dan beberapa ventilasi udara yang lumayan banyak. Tentunya, hal ini bertujuan untuk membuat sanggar tidak menjadi pengap. Selain itu, sanggar ini juga mendapatkan pencahayaan matahari yang cukup sehingga terlihat sangat terang. Pada sisi kanan Universitas Indonesia37dalam sanggar terdapat seperangkat alat musik gamelan yang lengkap. Kemudian, di dinding-dinding sanggar juga terdapat beberapa bingkai foto. Di antaranya adalah sepasang foto presiden dan wakil presiden RI, banner yang bertuliskan acara yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2017 silam, jam dinding, lukisan simbol Sapta Darma, dan tujuh nilai yang dianut oleh para penghayat Sapta Darma. Selain itu, terdapat juga beberapa foto penyebar kepercayaan Sapta Darma. Di lantai bagian depan, terdapat karpet hijau untuk orang-orang bersembahyang. Tak heran apabila disediakan pula beberapa kain putih persegi yang digunakan sebagai alas bagi orang-orang yang ingin bersembahyang. Kain-kain putih tersebut terbuat dari kain mori dan memang dibentuk persegi.Gambar 2.5. Kondisi Sanggar Pusat Sapta Darma IndonesiaSumber : Dokumentasi Pribadi.2.5. Aktivitas Penghayat Sapta Darma Indonesia, Surabaya2.5.1. Ibadah SujudPenghayat Sapta Darma Indonesia memiliki kegiatan-kegiatan yang bersifat komunal maupun pribadi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat komunal tersebut dilakukan di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia, sanggar-sanggar kecil, maupun tempat yang telah ditentukan. Dalam melaksanakan ibadah, para penghayat dianjurkan untuk melakukannya pada waktu yang senggang atau longgar dan tenang dalam kurun waktu 24 jam. Biasanya, waktu yang longgar bagi para penghayat jatuh pada pukul sembilan, Universitas Indonesia38sebelas, atau satu malam. Ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah sujud9. Bagi para penghayat kepercayaan Sapta Darma Indonesia, ibadah sujud diwajibkan untuk dilakukan atau dihayati oleh setiap warga sekurang-kurangnya sekali dalam kurun waktu 24 jam, kecuali bagi warga yang keadaan jasmani maupun rohaninya tidak memungkinkan.Dalam pelaksanannya, terdapat tata cara tersendiri yang dilakukan oleh para penghayat: Pertama, sujud dilakukan dengan menghadap ke arah timur. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penerimaan wahyu yang pertama bagi penghayat Sapta Darma Indonesia dilakukan ketika menghadap ke arah timur. Kemudian, dalam bahasa Jawa, timur disebut sebagai wetan yang juga dapat diartikan sebagai wiwitan atau permulaan. Kedua, pada saat bersujud, pada hakikatnya, para penghayat harus ingat kepada wiwitan atau permulaan asal-usul manusia. Manusia lahir dan hidup di dunia karena diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan perantara seorang ibu dan bapak. Kemudian, manusia juga lahir dan hidup di dunia karena dari-sari bumi atau sari-sarimakanan berasal dari bumi. Ketiga, duduk bersila dengan tangan sekadep atau bersilang di depan dada. Hal ini berdasarkan pada wahyu penerimaan ajaran sujud dan menurut ajaran Sapta Darma. Kemudian, para penghayat harus bisa melakukan ibadah sujud ini dengan keheningan dan mengikuti jalannya rasa.10. Keempat, tidak boleh memakai tutup kepala. Pelarangan ini hanya sebagai lambang dan kiasan agar perjalanan Hyang Maha Suci (Nur atau roh) tidak terganggu. Kelima, penghayat harus duduk beralaskan kain mori (kain putih) berbentuk persegi dengan ukuran tiga meter. Duduk di atas kain mori melambangkan bahwa ketika seorang penghayat melakukan sujud, ia berada dalam keadaan yang serba bersih dan putih, termasuk batin dan jiwanya. Keenam, penghayat dianjurkan untuk memakai pakaian polos berwarna putih. Meskipun warna tersebut tidak diwajibkan, asalkan pakaian tersebut bersih. Hal ini mengandung arti bahwa suatu ajaran atau tuntunan yang dilakukan berdasarkan kesucian.9 Melakukan sujud/panembah adalah suatu usaha untuk mencapai ketenangan diri, ketenangan raga, batin dan rasa, bebas segala pengaruh dan biasanya mengarah kepada penyembah terhadap Tuhan Yang MahaEsa. Sujud dapat dilakukan dalam sikap berdiri, berlutut, duduk atau telentang, disesuaikan dengan keadaan dan tempat yang memungkinkan dalam batas kemampuan dan kemungkinan.10Secara mistik dan praktek, rasadapat digambarkan sebagai perasaan hati intuitif. Dalam arti umumnya rasa dapat berarti “perasaan indrawi” (taste, misalnya: manisnya gula) dan “perasaan hati” (feeling, misalnya: kecewa). Rasa adalah kapasitas pribadi yang membawa pada pengertian yang sejati, menjadi essensi seseornag dan menjadi bagian seseorang dalam Yang Mutlak (Mulder, 1999: 51).Universitas Indonesia39Ibadah sujud dapat dilakukan sendiri maupun bersama-sama. Pelaksanaan sujud secara bersama-sama biasanya dilakukan di sanggar dan dipimpin oleh seorang “tuntunan”. “Tuntunan” ini bisa merupakan seseorang yang dituakan atau sesepuh, maupun orang biasa. 11 Penuntun pasujudan menempati Sanggar Pamelengan (GiriPamelengan) atau tempat pengimaman yang terletak di dalam ruang sanggar, tepatnya berada di tengah dan paling depan. Anggota yang lainnya mengambil tempat di belakang atau di samping penuntun pasujudan. Setiap warga duduk di atas kain morinya masing-masing dan menghadap ke arah timur. Para laki-laki duduk bersila dan perempuan duduk bersimpuh dengan kedua telapak tangan diletakkan di paha. Posisi badan tegak lurus dengan pandangan mata ke depan. Setelah semua dalam keadaan tenang dan siap untuk melakukan ibadah sujud, terlebih dahulu Penuntun Pasujudan menghadap ke arah warga untuk menyampaikan kata-kata ajakan (pengantar singkat). Sesudah itu, Panuntun Pasujudan menghadap ke arah timur seperti warga yang lain, dan dapat melakukan sujud dengan hening. Setelah Panuntun Pasujudan merasakan suasana keheningan, ia kemudian mengucap atau menyebut asma tiga12, yaitu tiga sifat mutlak Tuhan Yang Maha Esa dan Panuntun Agung Sapta Darma, sebagai berikut: Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil, Sri Gutama Panuntun Agung Sapta Darma. Selanjutnya, sang panutun sujud memberi isyarat serta ucapan bahwa sujud dimulai. Gerakan sujud pada hakikatnya, berdasarkan Kepercayaan Sapta Darma bukan digerakkan oleh kemauan, melainkan gerakan sujud itu mengikuti jalannya rasa. Sehingga cepat dan lambatnya sujud masing-masing individu berbeda satu sama lain.Ibadah sujud ini biasanya dilakukan sebanyak tiga kali dan memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung dari rasa yang dimiliki oleh setiap orang. Mulanya, setiap pengikut Sapta Darma yang melaksanakan sujud, mengucap “Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Agung” di dalam hati sembari 11 “Tuntunan” merupakan seorang yang dianggap dapat mengayomi dan mengajarkan ilmu kepada warga sapta darma. Untuk menjadi seorang tuntunan, harus dikendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa. Melalui perantara para sesepuh sesepuh, Tuhan Yang Maha Esa memutuskan seorang tuntunan. Di setiap sanggar terdapat tuntunannya masing masing. Di sanggar sanggar kecil juga begitu. Biasanya setiap sanggar terdapat 1 tuntunan.12 “Asmo 3” ini merupakan ajaran sacral, gaib dalam sapta darma sebagai kunci jika seseorang menginginkan sesuatu.“Asmo 3” ini juga merupakan baacan yang dibaca oleh pengikut sapta darma ketika sedang ibadah sujud. Selain itu, nama lain dari “Asmo 3” ini adalah “Tri Sabdo Maha Yoni”, yoni itu berarti tuah (=manfaat). Universitas Indonesia40dihayati. Selanjutnya, para penghayat akan merasakan getaran-getaran yang menuntutnya untuk melakukan sujud. Pada saat sujud yang pertama, apabila dahi sudah menyentuh lantai atau kain mori, para penghayat harus mengucapkan di dalam hati,“Yang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa” sebanyak tiga kali. Kemudian, badan para penghayat kembali duduk tegak dan merasakan getaran lagi untuk sujud yang kedua. Pelaksanaan sujud kedua pada dasarnya sama seperti sujud yang pertama. Katakata yang diucap pada saat sujud kedua adalah, “Kesalahane Hyang Maha Suci nyuwun ngapura Hyang Maha Kuasa” sebanyak tiga kali. Kemudian, para penghayat duduk tegak kembali hingga melakukan sujud yang terakhir, dengan bacaan “Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuasa” sebanyak 3 kali. Setelah itu, badan ditegakkan kembali seperti sujud pertama, tetapi masih dalam kondisi hening. Dengan berakhirnya sujud yang ketiga ini, maka hal ini berarti penghayatan sujud cara Kepercayaan Sapta Darma telah selesai. Setelah melakukan sujud, kedua tangan dilepaskan dari patrap bersilang dimuka dada (sedakep), dan selanjutnya kedua telapak tangan dibasuhkan pada dahi dari atas ke bawah dan diulangi sebanyak tiga kali.Gambar 2.6. Warga penghayat Kepercayaan Sapta Darma Indonesia sedang melakukan ibadah sujud.Sumber: Dokumentasi Pribadi.2.5.2. RacutRacut atau ngeracut termasuk dalam ajaran atau tuntunan WewarahKepercayaan Sapta Darma. Wahyu ajaran racut atau ngeracut ini diterima oleh Hardjo Sapuro pada tanggal 13 Februari 1953. Racut atau ngeracut wajib dipelajari dan dihayati oleh setiap warga Kepercayaan Sapta Darma yang sudah dewasa. Mempelajari dan latihan racut harus dilakukan di sanggar dan harus dituntun oleh Panuntun Sanggar Universitas Indonesia41atau Pinisepuh. Racut atau ngeracut adalah suatu cara untuk memisahkan sukma dan raga atau apa yang disebut dengan “mati dalam hidup”13 (mati sajroning urip). Tujuan dari ngeracut ini adalah untuk mengenal adanya alam gaib, melatih diri (apabila manusia hendak meninggal dunia tidak melalui proses kematian yang sulit, agar roh-nya tidak kesasar atau tersesat ke alam penasaran), serta untuk mencapai kesempurnaan di alam akhirat (sampurnaning pati). Seperti yang diungkapkan dalam pitutur luhur oleh para leluhur tentang orang mati yang diwujudkan dalam tembang jawa, “Dhandanggula”:“Wis jamake wong ngaurip kaki (sudah waktunya orang meninggalkan tubuhnya)Lamun benjang tumekeng palastra (besok ketika sudah meninggal)Wong mati nyang endi parane (orang mati kemana perginya)Upamane peksi mabur (umpamanya burung terbang)Uncat saking kurungan meki (keluar dari sangkarnya)Mula padha den prayitna (sejak saat itu berdoa)Nyawa kongsi keliru (hidup itu banyak salah)Wong urip neng alam donya (orang hidup di alam dunia)Upamane sira lunga sonja kaki (seperti jiwa lepas dari raga)Mulih mura mulanira” (dapatkan seperti diri ini hidup kembali)Tata cara melakukan racut sangatlah panjang. Sebelumnya, orang yang ingin melakukan racut, harus melakukan sujud terlebih dahulu dengan tata cara dan bacaan sujud. Setelah gerakan sujud ketiga selesai, ditambah satu lagi gerakan sujud keempat dengan bacaan “Hyang Maha Suci sowan Hyang Widi” sebanyak tiga kali. Seselesainya sujud keempat, badan ditegakkan kembali dan menyudahi sujud. Selanjutnya, tidur telentang membujur dengan arah kepala ke timur, kaki lurus dengan kedua tumit rapat, serta kedua telapak tangan diletakkan di atas dada. Tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, seperti patrap orang mati. Kemudian, mata pun dipejamkan. Selanjutnya, ketika para penghayat merasakan adanya getaran-getaran rasa dari ujung kaki yang kemudian memusat pada ubun-ubun. Orang yang melaksanakanngeracut nantinya akan ditutupi oleh kain putih. Tanda berhasilnya racut (ngukut rasa) bagi para penghayat adalah apabila mereka merasa seperti bermimpi, tetapi bukan mimpi. Para penghat akan melihat wujud badannya sendiri, seperti sedang bercermin. Pengalaman orang ketika melakukan racut berbeda-beda antara satu dengan yang 13 Istilah mati di sini tidak berarti meninggal atau tidak hidup kembali. Akan tetapi, hanya sukma berpisah dengan raga dalam waktu sementara dan akan kembali lagi kepada raganya (hidup kembali). Jadi yang mati di sini adalah rasanya. Sewaktu sukma atau rasa tidak ada, raga masih hidup karena masih bernyawa. Universitas Indonesia42lainnya. Pengalaman tersebut dinyatakan sebagai pengalaman dari penghayat ketika berada di alam gaib.Gambar 2.7. Beberapa orang warga Kepercayaan Sapta Darma sedang melakukan “racut” yang di tuntun dan dijaga oleh pinisepuh.Sumber: Dokumentasi Pribadi.2.5.3. Ulah Rasa dan Tukar HawaUlah rasa adalah suatu cara bagi penghayatkepercayaan Sapta Darma Indonesia untuk menghilangkan rasa capai atau lelah badan setelah bekerja keras. Sehingga, ulah rasa ini bertujuan agar badan dapat segar dan sehat kembali. Cara melakukan ulah rasa sebelumnya harus didahului dengan sujud terlebih dahulu. Setelah itu, badan tidur telentang dan membujur ke arah mana saja, kepala tidak boleh menoleh ke kiri atau kanan. Kedua tangan diletakkan lurus pada kedua sisi badan. Semua urat-urat dikendorkan, mata terpejam, dan usahakan mengosongkan pikiran, gagasan, anganangan, perasaan, dan lainnya.Tukar hawa dipercaya memberikan efek sangat baik bagi orang-orang yang sedang terkena gangguan penyakit, terutama bagi yang terkena penyakit paru-paru, TBC (Tuberculossis) dan penyakit jantung. Cara melakukan tukar hawa sama seperti melakukan ulah rasa. Kemudian, ditambahkan dengan mengatur pernapasan, yaitu dengan cara menarik napas panjang dari perut (bukan dari dada). Melakukan pernapasan panjang ini dikerjakan sampai beberapa kali berulang-ulang atau sedikitnya selama tiga puluh menit. Pernapasan ini dilakukan dengan menarik napas selama lima belas hingga tiga puluh detik.Universitas Indonesia432.5.4. TirakatPenghayat Kepercayaan Sapta Darma Indonesia wajib melakukan tirakat/tirakatan (bukan puasa) dalam kurun waktu satu tahun sebanyak empat puluh hari. Penjelasan mengenai tirakat tersebut adalah sebagai berikut:1. Selama 7 hari/malam, menyongsong peringatan datangnya tahun baru Saka (Jawa) pada tanggal 1 Sura.2. Selama 12 hari/malam, menyongsong peringatan penerimaan wahyu ajaran sujud dan penerimaan wahyu gelar Sri Gutama Panuntun Agung Sapta Darma pada tanggal 27 Desember.3. Selama 9 hari/malam, menyongsong peringatan penerimaan wahyu ajaran racut (ngeracut) pada tanggal 13 Februari.4. Selama 12 hari/malam, menyongsong peringatan penerimaan wahyu simbol wewarah 7 dan sesanti pada tanggal 12 Juli.Selama melakukan tirakatan, selama beberapa hari tersebut, penghayat kepercayaan Sapta Darma Indonesia harus memperbanyak atau meningkatkan penghayatan sujud atau menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik secara pribadi di rumah maupun secara bersama-sama di sanggar. Selain itu, mereka juga memiliki beberapa pantangan, diantaranya: tidak tidur di waktu siang hari. Kemudian, pada malam hari mereka tidak diperbolehkan untuk tidur sebelum lewat pukul 01.00. Pantangan lainnya adalah, menghindari kata dan perbuatan yang dapat menusuk atau menyakiti atau mengecewakan perasaan orang lain, tidak menyiksa atau membunuh terhadap binatang dan makhluk hidup lainnya (kecuali terhadap binatang yang sangat membahayakan keselamatan diri maupun orang lain), mencegah dan menghindari perilaku dan perbuatan yang sifatnya bersenang-senang atau berfoya-foya, mengurangi makan dan minum (tidak puasa) utamanya makan dan minum satu kali dalam kurun waktu sehari semalam, tidak makan makanan yang bernyawa seperti ikan, daging sapi, telur, dan lainnya, dan tidak melakukan hubungan intim bagi pasangan suami istri.2.5.5. Tanggal 1 SuraSura merupakan nama bulan pertama menurut kalender Jawa (Tim Direktorat Kepercayaan, 2017:762). Oleh karena bulan Sura merupakan bulan pertama, maka tanggal 1 Sura juga berarti tahun baru dalam kalender Jawa. Di samping merupakan tahun baru Jawa, tanggal 1 Sura juga merupakan hari besar bagi penghayat kepercayaan Universitas Indonesia44terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang menjadi penghayat kepercayaan pasti mengadakan atau menyambut kedatangan bulan Sura ini. Penetapan tanggal 1 Sura sebagai hari raya bagi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa didasarkan dari hasil Musyawarah Nasional Kepercayaan I pada tanggal 30 Desember 1970. Menurut H. Karkono Kamajaya Partokusumo (1995:46), perubahan kalender di Jawa itu terjadi dan dimulai dengan 1 Sura tahun Alip 1555 yang bertepatan dengan tangggal 1 Muharam 1043 Hijriah atau bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1666 Masehi, pada hari Jumat Legi.Seperti kebiasaan dalam memperingati tahun baru, makna yang terkandung dalam peringatan tersebut, menurut Arymurthy seperti dikutip Loemajan Soehartono (1983/1984), sebagai berikut :1. Wawas segala yang telah kita perbuat pada tahun lalu dan membuat neraca kemajuan.2. Menyadari kelemahan dan potensi yang kita miliki demi memantapkan kesiagaan dan kewaspadaan.3. Merencanakan langkah dan tindakan yang akan diperbuat pada tahun mendatang dengan memanfaatkan pengalaman, perkembangan keadaan, dan peningkatan kemampuan sendiri lahir dan batin.Malam 1 Suro diperingati oleh setiap para penghayat kepercayaan. Menjelang malam 1 Sura ini, biasanya para penghayat mengadakan kumpul bersama di sanggarnya masing masing, maupun di rumahnya sendiri dengan mengadakan acara kumpul bersama tetangga dan makan bersama. Akan tetapi, tidak semua tetangga mau datang dalam acara malam 1 Sura yang diadakan oleh salah satu warga yang merupakan seorang penghayat kepercayaan. Secara simbolis, para penghayat yang memperingati malam 1 Sura di rumahnya memasang janur kuning di depan pintu rumah. Bagi penghayat kepercayaan Sapta Darma, biasanya untuk menyambut malam 1 Sura diadakan kegiatan “ruwatan”di Sanggar Pusat Sapta Darma Indonesia. Pada dasarnya, ruwatan adalah usaha untuk mengubah posisi yang tidak menguntungkan menjadi teratur, untuk mencegah kuasa jahat yang menguasai orang-orang yang menderita kemalangan tanpa mereka inginkan (sukerta) (Mulder, 1999: 57). Acara ruwatan ini dapat dilakukan oleh siapapun dan dari kalangan manapun. Ruwatan banyak diikuti oleh bukan saja penghayat kepercayaan, tetapi juga ada yang dari agama Islam, Kong Universitas Indonesia45Hu Cu, Hindu, dan lainnya. Biasanya, anak yang di-ruwat adalah anak tunggal, anak pertama, dan anak pandawa (lima bersaudara laki-laki semua). Ruwat bertujuan untuk membuang sial atau sukerta. Kegiatan ruwatan yang dilakukan biasanya memakai wayang kulit dan juga gamelan.Universitas Indonesia
Komentar
Posting Komentar